Penulis: Buletin Islamy Al Manhaj
Fatwa-fatwa Para Ulama tentang Firqah Tabligh
Kita
akan membawa beberapa fatwa (keputusan) para ulama tentang Firqah
Tabligh, agar ummat mengerti bahwa kita menuduh mereka sesat bukan dari
kita sendiri, tapi kita mengambilnya dari ucapan ulama kita yang mulia,
semoga Allah mengampuni mereka yang telah wafat dan menjaga yang masih
hidup. Perhatikan ucapan para ulama ini agar terbuka kekaburan yang
selama ini menutupi mereka. Dan hendaklah bagi mereka yang masuk ke
dalam kelompok ini segera keluar dan yang kagum segera sadar dan
membenci, karena kematian itu datangnya tiba-tiba.
1. Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah
"Dari Muhammad bin Ibrahim kepada yang terhormat raja Khalid bin Su'ud.
Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu. Wa ba'du:
Saya
telah menerima surat Anda dengan no. 37/4/5/D di 21/1/82H. Yang
berkaitan tentang permohonan untuk bekerja sama dengan kelompok yang
menamakan dirinya dengan "Kulliyatud Da'wah wat Tabligh Al Islamiyyah."
Maka
saya katakan: Bahwa jama'ah ini tidak ada kebaikan padanya dan jama'ah
ini adalah jama'ah yang sesat. Dan setelah membaca buku-buku yang
dikirimkan, kami dapati di dalamnya berisi kesesatan dan bid'ah serta
ajakan untuk beribadah kepada kubur dan kesyirikan. Perkara ini tidak
boleh didiamkan. Oleh karena itu kami akan membantah kesesatan yang ada
di dalamnya. Semoga Allah menolong agama-Nya dan meninggikan
kalimat-Nya. Wassalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. 29/1/82H."
(Al Qaulul Baligh hal. 29 dengan diringkas)
2. Syaikh Hummud At Tuwaijiri rahimahullah
"Adapun
ucapan penanya: Apakah aku menasehatinya untuk ikut khuruj dengan
orang-orang tabligh di dalam negeri ini (Saudi) atau di luar?
Maka
saya jawab: Saya menasehati penanya dan yang lainnya yang ingin
agamanya selamat dari noda-noda kesyirikan, ghuluw, bid'ah dan khurafat
agar jangan bergabung dengan orang-orang Tabligh dan ikut khuruj bersama
mereka. Apakah itu di Saudi atau di luar Saudi. Karena hukum yang
paling ringan terhadap orang tabligh adalah: Mereka ahlul bid'ah, sesat
dan bodoh dalam agama mereka serta pengamalannya. Maka orang-orang yang
seperti ini keadaannya, tidak diragukan lagi bahwa menjauhi mereka
adalah sikap yang selamat.
Sungguh sangat indah apa yang dikatakan seorang penyair:
Janganlah engkau berteman dengan teman yang bodoh.
Hati-hatilah engkau darinya.
Betapa banyak orang bodoh yang merusak seorang yang baik ketika berteman dengannya."
(Al Qaulul Baligh, syaikh Hummud At Tuwaijiri hal. 30)
3. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani hafidhahullah
Pertanyaan:
Di sini ada pertanyaan: Apa pendapat Anda tentang Jama'ah (firqah) Tabligh dan apakah ukuran khuruj ada terdapat dalam sunnah?
Jawab:
Pertanyaan
ini adalah pertanyaan penting. Dan aku memiliki jawaban yang ringkas,
serta kalimat yang benar wajib untuk dikatakan. Yang saya yakini bahwa
da'wah tabligh adalah: sufi gaya baru. Da'wah ini tidak berdasarkan
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Khuruj
yang mereka lakukan dan yang mereka batasi dengan tiga hari dan empat
puluh hari, serta mereka berusaha menguatkannya dengan berbagai nash,
sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan nash secara mutlak. Sebenarnya
cukup bagi kita untuk bersandar kepada salafus shalih. Penyandaran ini
adalah penyandaran yang benar. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk
tidak bersandar kepadanya. Bersandar kepada para salafus sholih, -wajib
diketahui hakikat ini,- bukanlah seperti bersandar kepada seseorang yang
dikatakan pemilik mazhab ini atau kepada seorang syaikh yang dikatakan
bahwa dia pemilik tarikat ini atau kepada seseorang yang dikatakan bahwa
dia pemilik jama'ah tertentu. Berintima' (bergabung) kepada salaf
adalah berintima' kepada sesuatu yang 'ishmah (terpelihara dari dosa).
Dan berintima' kepada selain mereka adalah berintima' kepada yang tidak
'ishmah. Firqah mereka itu –cukup bagi kita dengan berintima' kepada
salaf- bahwa mereka datang membawa sebuah tata tertib khuruj untuk
tabligh (menyampaikan agama), menurut mereka. Itu tidak termasuk
perbuatan salaf, bahkan bukan termasuk perbuatan khalaf, karena ini baru
datang di masa kita dan tidak diketahui di masa yang panjang tadi.
(Sejak zaman para salaf hingga para khalaf). Kemudian yang mengherankan,
mereka mengatakan bahwa mereka khuruj (keluar) untuk bertabligh,
padahal mereka mengakui sendiri bahwa mereka bukan orang yang pantas
untuk memikul tugas tabligh (penyampaian agama) itu. Yang melakukan
tabligh (penyampaian agama) adalah para ulama, sebagaimana yang
dilakukan Rasulullah dengan mengutus utusan dari kalangan para
sahabatnya yang terbaik yang tergolong ulama mereka dan fuqaha` mereka
untuk mengajarkan Islam kepada manusia. Beliau mengirim Ali sendirian,
Abu Musa sendirian, dan Mu'adz sendirian. Tidak pernah beliau mengirim
para sahabatnya dalam jumlah yang besar, padahal mereka sahabat. Karena
mereka tidak memiliki ilmu seperti beberapa sahabat tadi. Maka apa yang
kita katakan terhadap orang yang ilmunya tidak ada apa-apanya jika
dibandingkan dengan sahabat yang tidak dikirim Nabi, apa lagi dibanding
dengan para sahabat yang alim seperti yang kita katakan tadi?! Sedangkan
mereka (Firqah Tabligh) keluar berdakwah dengan jumlah puluhan,
kadang-kadang ratusan. Dan ada di antara mereka yang tidak berilmu,
bahkan bukan penuntut ilmu. Mereka hanya memiliki beberapa ilmu yang
dicomot dari sana sini. Adapun yang lainnya, hanya orang awam saja. Di
antara hikmah orang dulu ada yang berbunyi: Sesuatu yang kosong tidak
akan bisa memberi. Apa yang mereka sampaikan kepada manusia, padahal
mereka mengaku (jama'ah) Tabligh?
Kita menasehati mereka di
Suriah dan Amman agar duduk dan tinggal di negeri mereka dan duduk
mempelajari agama, khususnya mempelajari aqidah tauhid, -yang iman
seorang mukmin tidak sah walau bagaimanapun shalihnya dia, banyak shalat
dan puasanya-, kecuali setelah memperbaiki aqidahnya.
Kita
menasehati mereka agar tinggal di negeri mereka dan membuat halaqah ilmu
di sana serta mempelajari ilmu yang bermanfaat dari para ulama sebagai
ganti khurujnya mereka ke sana kemari, yang kadang-kadang mereka pergi
ke negeri kufur dan sesat yang di sana banyak keharaman, yang tidak
samar bagi kita semua yang itu akan memberi bekas kepada orang yang
berkunjung ke sana, khususnya bagi orang yang baru sekali berangkat ke
sana. Di sana mereka melihat banyak fitnah, sedangkan mereka tidak
memiliki senjata untuk melidungi diri dalam bentuk ilmu untuk menegakkan
hujjah kepada orang, mereka akan menghadapi, khususnya penduduk negeri
itu yang mereka ahli menggunakan bahasanya, sedangkan mereka (para
tabligh) tidak mengerti tentang bahasa mereka.
Dan termasuk
syarat tabligh adalah hendaknya si penyampai agama mengetahui bahasa
kaum itu, sebagaimana diisyaratkan oleh Rabb kita 'Azza wa Jalla dalam
Al Qur`an:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ
"Tidaklah kami mengutus seorang rasul kecuali dengan lisan kaumnya agar dia menerangkan kepada mereka." (Ibrahim: 4)
Maka
bagaimana mereka bisa menyampaikan ilmu, sedangkan mereka mengakui
bahwa mereka tidak memiliki ilmu?! Dan bagaimana mereka akan
menyampaikan ilmu, sedangkan mereka tidak mengerti bahasa kaum itu?! Ini
sebagai jawaban untuk pertanyaan ini. (Dari kaset Al Qaulul Baligh fir
Radd 'ala Firqatit Tabligh)
4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz hafidhahullah
Pertanyaan:
Semoga
Allah merahmati Anda, ya syaikh. Kami mendengar tentang (firqah)
tabligh dan dakwah yang mereka lakukan, apakah anda membolehkan saya
untuk ikut serta dengan mereka? Saya mengharap bimbingan dan nasehat
dari anda. Semoga Allah memberi pahala kepada anda.
Jawab:
Siapa
yang mengajak kepada Allah adalah muballigh, (sebagaimana Nabi bersabda
–pent) "Sampaikan dariku walau satu ayat." Adapun jama'ah (firqah)
tabligh yang terkenal dari India itu, di dalamnya terdapat
khurafat-khurafat, bid'ah-bid'ah dan kesyirikan-kesyirikan. Maka tidak
boleh khuruj (keluar) bersama mereka. Kecuali kalau ada ulama yang ikut
bersama mereka untuk mengajari mereka dan menyadarkan mereka, maka ini
tidak mengapa. Tapi kalau untuk mendukung mereka, maka tidak boleh,
karena mereka memiliki khurafat dan bid'ah. Dan orang alim yang keluar
bersama mereka hendaknya menyadarkan dan mengembalikan mereka kepada
jalan yang benar. (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
Tanya:
Para
penuntut ilmu menanya kepada anda dan para ulama kibar (senior) lainnya
tentang: Apakah anda menyetujui kalau mereka bergabung dengan kelompok
yang ada seperti Ikhwan, Tabligh, kelompok Jihad dan yang lainnya atau
anda menyuruh mereka untuk belajar bersama para da'i salaf yang mengajak
kepada dakwah salafiyyah?
Jawab:
Kita nasehati mereka
semuanya untuk belajar bersama para thalabul ilmi lainnya dan berjalan
di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Kita nasehati mereka semuanya
agar tujuannya untuk mengikuti Al Kitab dan sunnah dan berjalan di atas
jalan Ahlus sunnah wal Jama'ah. Dan hendaknya mereka menjadi ahlus
sunnah atau para pengikut salafus shalih. Adapun berhizb dengan Ikhwanul
Muslimin, Tablighi atau yang lainnya, maka tidak boleh. Ini keliru.
Kita nasehati mereka agar menjadi satu jama'ah dan bernisbah kepada
Ahlus sunnah wal jama'ah. Inilah jalan yang lurus untuk menyatukan
langkah. Kalau ada berbagai nama sedangkan semuanya di atas satu jalan,
dakwah salafiyyah, maka tidak mengapa, seperti yang ada di Shan'a dan
yang lainnya, tapi yang penting tujuan dan jalan mereka satu. (Dari
kaset Al Qaulul Baligh)
5. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Ghudayyan hafidhahullah (anggota Hai'ah Kibarul Ulama`)
Pertanyaan:
Kami
berada di suatu kampung dan berdatangan kepada kami apa yang dinamakan
dengan (firqah) Tabligh, apakah kami boleh ikut berjalan bersama mereka?
Kami mohon penjelasannya.
Jawab:
Jangan kalian ikut
berjalan bersama mereka!! Tapi berjalanlah dengan Kitabullah dan Sunnah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam!! (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
6. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafidhahullah
Pertanyaan:
Syaikh,
di sana ada kelompok-kelompok bid'ah, seperti Ikhwan dan Tabligh serta
yang lainnya. Apakah kelompok ini termasuk Ahlus Sunnah? Dan apa nasehat
anda tentang masalah ini?
Jawab:
"Kelompok-kelompok
ini... Telah diketahui bahwa yang selamat adalah yang seperti yang telah
saya terangkan tadi, yaitu kalau sesuai dengan Rasulullah dan para
sahabatnya, yang mana beliau berkata ketika ditanya tentang Al Firqatun
Najiyah: Yang aku dan para sahabatku ada di atasnya. Firqah-firqah baru
dan beraneka ragam ini, pertama kali: bid'ah. Karena lahirnya di abad
14. Sebelum abad 14 itu mereka tidak ada, masih di alam kematian. Dan
dilahirkan di abad 14. Adapun manhaj yang lurus dan sirathal mustaqim,
lahirnya atau asalnya adalah sejak diutusnya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam.
Maka siapa yang mengikuti ini dialah yang
selamat dan berhasil. Adapun yang meninggalkan berarti dia menyimpang.
Firqah-firqah itu telah diketahui bahwa padanya ada kebenaran dan ada
kesalahan, akan tetapi kesalahan-kesalahannya besar sekali, maka sangat
dikhawatirkan.
Hendaknya mereka diberi semangat untuk mengikuti
jama'ah yakni Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan yang berada di atas jalan
salaf ummat ini serta yang menta'wil menurut apa yang datang dari
Rasulullah bukan dengan yang datang dari si fulan dan fulan, menurut
tarikat-tarikat yang ada di abad 14 H. Maka kedua kelompok yang tadi
disinggung adanya hanya di abad 14 H. Mereka berpegang dan berjalan di
atas jalan-jalan dan manhaj-manhaj itu. Mereka tidak berpegang dengan
dalil-dalil dari Al Kitab dan Sunnah, tapi dengan pendapat-pendapat,
pemikiran-pemikiran dan manhaj-manhaj yang baru dan bid'ah yang mereka
membangun jalan dan manhaj mereka di atasnya.
Dan yang paling
jelas di kalangan mereka adalah: Wala` dan Bara`. Al Wala` wal Bara` di
kalangan mereka adalah bagi yang masuk ke dalam kelompok mereka,
misalnya Ikhwanul Muslimin, siapa yang masuk ke dalam kelompok mereka,
maka dia menjadi teman mereka dan akan mereka cintai walaupun dia dari
rafidlah, dan akhirnya dia menjadi saudara dan teman mereka.
Oleh
karena ini mereka mengumpulkan siapa saja, termasuk orang rafidlah yang
membenci sahabat dan tidak mengambil kebenaran dari sahabat. Kalau dia
masuk ke dalam kelompok mereka, jadilah dia sebagai teman dan anggota
mereka. Mereka membela apa yang dia bela dan membenci apa yang dia
benci.
Adapun Tabligh, pada mereka terdapat perkara-perkara
mungkar. Pertama: dia adalah manhaj yang bid'ah dan berasal dari Delhi
(India –red) bukan dari Mekkah atau Madinah. Tapi dari Delhi di India.
Yakni seperti telah diketahui bahwa di sana penuh dengan khurafat,
bid'ah dan syirik walau di sana juga banyak Ahlus Sunnah wal Jama'ah,
seperti jama'ah ahlul hadits, yang mereka adalah sebaik-baik manusia di
sana. Tetapi Tabligh ini keluar dari sana melalui buatan para pemimpin
mereka yang ahli bid'ah dan tarekat sufi yang menyimpang dalam aqidah.
Maka kelompok ini adalah kelompok bid'ah dan muhdats. Di antara mereka
ada Sufi dan Asy'ari yang jelas-jelas bukan berada di atas jalan Ahlus
Sunnah wal Jama'ah, dalam aqidah dan manhaj. Dan yang selamat adalah
orang yang mengikuti manhaj salaf dan yang berjalan di atas jalan
mereka." (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
7. Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali hafidhahullah
"Saya
tidak pernah khuruj dengan mereka (Firqah tabligh), tapi saya pergi
untuk suatu keperluan, yakni ke Kashmir. Setelah selesai dari pekerjaan
ini aku melewati Delhi. Maka ada yang mengatakan kepadaku: Mari kita
singgah ke suatu tempat untuk dikunjungi, yaitu ke markas Tabligh yaitu
di Nizamuddin. Nizamuddin ini adalah masjid yang dekat dengan markas
jama'ah tabligh. Di dalamnya ada lima kubur yang diberi kubah. Yakni
kuburan yang disembah, bukan menyembah kepada Allah. Ini ibadah yang
jelas syirik. Maka kami melewati 'monumen' ini. Kemudian kami singgah ke
markas tabligh. Orang-orang berselisih apakah di dalamnya ada kuburan
atau tidak.
Maku Abdurrab bertanya, ini orang yang saya ceritakan
tadi, apakah di dalam masjid Tabligh ini ada kuburan? Yang cerdas di
kalangan mereka berkata: Tidak, di sini tidak ada kuburan! Kuburan Ilyas
di Mekkah atau di tempat ini atau itu yang jauh. Maka dia terus
bertanya hingga ada seseorang yang menunjukkan atau mengabarkan bahwa di
sana ada kuburan Ilyas dan di sebelahnya kuburan istrinya.
Kemudian
al Akh Abdurrab pergi ke kedua kuburan itu dan mencari-carinya setelah
ketemu, dia datang kepada kami sambil berkata: Mari, saya tunjukkan
kepada kalian dua kuburannya. Maka kami melihat, ini kuburan Ilyas dan
ini kuburan istrinya yang keduanya ada di dalam masjid.
Kemudian
setelah itu kami pastikan bahwa di dalamnya ada empat kuburan, bukan dua
kuburan saja. Kami memastikannya melalui orang-orang yang dipercaya
yang telah berjalan bersama Tabligh bertahun-tahun.
Tidak akan
berkumpul masjid dan kuburan (di satu tempat) dalam agama Islam. Akan
tetapi, mereka ini karena kesufiannya, kebodohannya terhadap manhaj
dakwah para nabi, jauh darinya dan meremehkannya, mereka menguburkan
para gurunya di masjid, padahal para ulama telah mengatakan: bahwa
shalat di dalam masjid yang ada kuburan atau beberapa kuburan, shalatnya
tidak sah. Saya bertanya tentang hal ini kepada Syaikh Bin Bazz.
Sebenarnya saya tahu tentang ini dan juga para Thalabul Ilmi bahwa
shalat di dalam masjid yang ada satu kuburan atau beberapa kuburan,
shalatnya tidak sah. Maka saya tanyakan kepada Syaikh Bin Bazz, agar
hadirin mendengar jawabannya. Saya katakan: Apa pendapat anda, syaikh,
tentang masjid yang ada kuburan di dalamnya, apakah sah shalat di
dalamnya? Beliau menjawab: Tidak! Saya katakan: Di dalamnya ada banyak
kuburan? Beliau mengatakan: Terlebih lagi demikian! Saya katakan:
Kuburannya bukan di kiblat masjid, tapi di sebelah kiri dan kanannya?
Beliau menjawab: Demikian juga, tetap tidak sah. Saya katakan kepada
beliau bahwa masjid induk atau markas induk tabligh di dalamnya ada
beberapa kuburan? Maka beliau menjawab: Tetap shalatnya tidak sah!
Sangat
disayangkan sekali, kelompok ini bergerak di dunia, tetapi beginilah
keadaannya; tidak mengajak kepada tauhid, tidak membasmi syirik dan
tidak membasmi jalan-jalan menuju kesyirikan. Mereka terus berjalan
dengan melewati beberapa kurun dan generasi tetap dengan dakwah seperti
ini. Tidak mau berbicara tentang tauhid, memerangi kesyirikan dan tidak
membolehkan bagi para pengikutnya untuk melaksanakan kewajiban ini. Ini
adalah suatu hal yang telah diketahui di kalangan mereka.
Maka
kita meminta kepada mereka agar kembali kepada Allah dan mempelajari
manhaj dakwah para nabi, mereka juga jama'ah yang lainnya.
Mengapa
demikian wahai saudara-saudara? Karena kalau ada yang berdakwah
mengajak kepada shalat, orang akan berkata: Silahkan! Tidak ada yang
melarang, mereka tidak akan khawatir. Akan tetapi coba kalau mengatakan:
Berdo'a kepada selain Allah adalah perbuatan syirik! Membangun kuburan
haram hukumnya! Menyembelih untuk selain Allah adalah syirik! Maka
mereka akan marah.
Ada seorang pemuda yang berkhuthbah di suatu
masjid tentang persatuan, akhlak, perekonomian, dekadensi moral, dan
yang lainnya. Orang-orang semuanya, masya Allah, berkumpul dan
mendengarkannya. Kita katakan kepadanya: Ya akhi... jazakallahu khairan,
khuthbah anda sangat baik, tetapi orang-orang yang ada di hadapanmu ini
tidak mengenal tentang tauhid, mereka terjatuh dalam kesyirikan dan
bid'ah, maka terangkan kepada mereka tentang manhaj dakwah para Nabi
'alaihimush shalatu was salam! Maka ketika dia mulai berbicara,
merekapun mulai bersungguh-sungguh. Ketika dia terus berbicara,
merekapun semakin jengkel. Maka ketika yang ketiga kalinya ada
sekelompok orang yang ada di masjid bangkit dan memukulinya! Maka dia
datang kepadaku sambil menangis. Dia berkata: Aku habis bertengkar
dengan mereka, mereka memukuliku! Maka aku katakan kepadanya: Sekarang
engkau telah berjalan di atas manhaj dakwah para Nabi. Kalau engkau
tetapi seperti dulu bertahun-tahun, engkau tidak akan berselisih dengan
seorangpun. Dari sinilah kelompok yang ada ini bergerak, mereka
memerangi bagian ini. Nabi bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاء ثُمَّ اْلأّمْثَل فَاْلأَمْثَل
"Seberat-berat manusia diberi cobaan adalah para Nabi, kemudian yang selanjutnya dan kemudian yang selanjutnya."
Karena
mereka menghadapi berbagai gangguan yang hanya Allah yang tahu tentang
kerasnya gangguan itu ketika mereka berdakwah kepada tauhid dan membasmi
kesyirikan. Dari sinilah para da'i yang mengajak kepada tauhid dan
membasmi syirik malah disakiti. Kalau dakwah Ikhwan dan Tabligh
disenangi manusia karena meremehkan sisi ini. Tapi kalau aku berkhuthbah
di masjid seperti ini, sedikit sekali yang mau mendengarku dan menerima
dakwahku, kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah. Kalau aku
berdakwah mengajak shalat, mereka akan berkata: silahkan. Tapi kalau aku
berdakwah untuk bertauhid dan memerangi kesyirikan, semuanya akan lari
dan merasa asing. Inilah dakwah para Nabi.
Inilah dasarnya
mengapa mereka menjadi manusia yang paling banyak ganngguannya. Sekarang
para salafiyyun, para da'i kepada tauhid keadaan mereka dikaburkan oleh
manusia. Karena banyaknya fitnah, kebohongan-kebohongan dan tuduhan
dusta yang ditujukan kepada mereka. Mengapa? Karena mereka mengajak
untuk mentauhidkan Allah!
Kelompok ini tidak bisa masuk ke dalam
lapangan ini, karena mereka takut kepada sisi ini. Tetapi mereka akan
ditanya di hadapan Allah. Demi Allah, telah datang kepada kami seseorang
atau segolongan Tabligh di Benares, di sebuah rumah yang saya tempati
dengan syaikh Shalih Al Iraqi. Mereka berkata: Kami dengar kalian
datang, kami sangat senang, maka kami datang mengunjungi kalian agar
kalian ikut bersama kami berdakwah kepada Allah. Dan tempat kami adalah
masjid ini. Maka kami juga gembira dan mendatangi masjid itu, ternyata
masjid itu tempat tarikat Berelwian. Mereka adalah para penyembah
berhala dan sangat keterlaluan dalam penyembahan itu.
Mereka
meyakini bahwa para wali bisa mengetahui perkara yang ghaib dan mengatur
alam. Mereka membolehkan untuk bernadzar, menyembelih, sujud dan ruku'
kepada kuburan. Singkat kata: mereka adalah golongan penyembah berhala.
Maka Syaikh Shalih pergi dan bersama kami ada seorang penerjemah,
namanya Abdul Alim, sekarang dia ada di Rabithah Al Alam Islami. Kami
bawa orang ini untuk menerjemahkan ucapan syaikh. Maka syaikhpun
berbicara. Setiap selesai berbicara beliau melihat kepada penerjemah
agar diterjemahkan. Maka penerjemahpun akan bergerak, maka ternyata
pemimpin tabligh melihat dan berkata: Tungguh, saya yang akan
menerjemahkan. Maka syaikh terus berbicara, tapi tidak ada seorangpun
yang menerjemahkan. Hingga ceramahnya selesai. Ketika selesai acara itu
dia mengucap salam dan malah pergi. Maka kami tetapi di situ menunggu
terjemah. Dia berkata: Saya ada keperluan, biar orang ini yang
menerjemahkan. Maka kami shalat Isya' sambil menunggu terjemahan ceramah
itu, tapi tidak kunjung diterjemahkan. Maka saya temui lagi orang itu
dan mengatakan: Ya akhi, kami datang ke tempat kalian ini bukan untuk
main-main. Tapi kalian tadi meminta kepada kami untuk ikut serta bersama
kalian berdakwah, maka kamipun datang menyambut ajakan kalian. Dan
syaikh tadi telah berbicara. Ketika penerjemah akan menerjemah engkau
malah melarangnya. Dan engkau menjanjikan akan menerjemahkannya, tapi
engkau tidak lakukan sedikitpun. Maka dia berkata: Ya akhi, engkau
tahu?! Masjid ini milik Khurafiyyin!! Kalau kita berbicara tentang
tauhid, mereka akan mengusir kita dari masjid. Maka saya katakan: Ya
akhi, apakah seperti ini dakwah para Nabi? Ya akhi, dakwah kalian
sekarang menyebar di penjuru dunia. Kalian pergi ke Amerika, Iran dan
Asia, kalian tidak dapati sedikitpun perlawanan selama-lamanya. Apakah
seperti ini dakwah para Nabi? Semua manusia menerimanya dan
menghormatinya? Dakwah para Nabi padanya ada pertempuran, darah,
kesusahan-kesusahan dan lain-lain. Kalau engkau diusir dari suatu
masjid, berdakwahlah di masjid lain atau di jalan-jalan atau di
hotel-hotel. Katakan kalimat yang haq dan tinggalkan. Rasul saja diusir
dari Mekkah karena sebab dakwah ini. Kemudian saya tanya sudah berapa
lama dakwah ini berjalan? Dia berkata: Belum tiga puluh tahun. Saya
katakan: Kalian telah menyebar di India, utara dan selatan. Dan engkau
melihat fenomena kesyirikan di hadapanmu dan telah mati berjuta-juta
orang. Sudah berapa juta orang yang mati selama itu dalam keadaan berada
di atas kesesatan, kesyirikan dan bid'ah yang kalian sebarkan ini?! Dan
engkau belum menerangkan hal itu kepada mereka! Apakah engkau tidak
merasa kalau engkau akan ditanya di hadapan Allah karena engkau
menyembunyikan kebenaran ini dan tidak menyampaikannya kepada para hamba
Allah?! Diapun diam. Maka aku permisi dan keluar.
Mereka
menyembunyikan kebenaran yang dinyatakan Al Qur`an. Dan mereka tidak
menegakkan panji-panji tauhid dan tidak mau menyatakan peperangan kepada
kesyirikan dan bid'ah. Mereka ini terkena ayat Allah:
إِنَّ
الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ
بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ
اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ
"Sesungguhnya orang yang
menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan
(yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkan kepada manusia
dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh
semua (makhluk) yang dapat melaknati." (Al Baqarah: 159).
Apa
yang mereka dapati kalau mereka telah menyembunyikan kebenaran yang
paling nyata?! Dan hal yang paling besar yang bukti-bukti itu berdiri di
atasnya?! Bukti-bukti yang paling besar adalah ayat-ayat tauhid. Dakwah
yang paling besar yang dilakukan para nabi dan Al Qur`an adalah tauhid.
Dan yang paling jelek dan bahaya adalah syirik dan bid'ah. Al Qur`an
dan Sunnah telah memeranginya. Kemudian mereka malah setuju dan bersama
kesyirikan, bid'ah, dan para pendukungnya sampai mati. Berapa banyak
orang yang mati di bawah panji ini dalam keadaan tidak tahu kebenaran
tauhid selama itu?! Dan dalam keadaan tidak bisa membedakan antara
tauhid dengan syirik?!
Kalau mereka tidak dihisab karena menyembunyikan ayat tauhid, maka siapa lagi yang dihisab?
Kita
berharap kepada Allah agar menjadi orang yang menolong agama ini dan
menasehati kaum muslimin. Dan agar Allah menjauhkan kita dari sifat
menipu dalam agama, karena membiarkan bid'ah dan syirik adalah penipuan
yang paling besar. Tidak ada penipuan yang bisa menyaingi penipuan ini.
Kalau menipu manusia dalam perdagangan saja Rasulullah berlepas tangan,
maka bagaimana lagi kalau menipu dalam agama? Bagaimana engkau bisa diam
terhadap kesyirikan dan bid'ah?! Engkau merusak aqidah kaum muslimin
dan masyarakat mereka. Kemudian engkau mengatakan: Kita semua kaum
muslimin, bersaudara dan engkau tidak menerangkan mana yang haq dan mana
yang batil?! Kita memohon kepada Allah agar Dia menjaga kita dari
penyakit ini." (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
8. Syaikh Shalih bin Abdullah Al Abud hafidhahullah
Adapun
tabligh... ketika Khilafah Utsmaniyyah runtuh bangkitlah firqah ini
dengan pemikiran jama'ah ini, firqah tabligh. Dan mereka membuat
dasar-dasar untuk para pengikutnya dengan nama "Ushulus Sittah" yang
mereka dakwahkan manusia kepadanya. Dan di akhirnya mereka membai'at
menurut empat macam tarekat sufi; Jistiyyah, Syahrawardiyyah,
Naqsyabandiyah dan Matur... saya lupa yang keempat, yang jelas empat
tarekat. Mereka dalam bidang aqidah adalah Maturidiyah atau Asy'ariyyah.
Dan dalam pemahaman syahadat mereka, yaitu syahadat Laa Ilaaha Illallah
dan Muhammad Rasulullah. Mereka tidak memahami maknanya kecuali bahwa:
Tidak ada yang Kuasa untuk Mencipta dan Mengadakan serta Membuat kecuali
Allah. Dan dalam memahami makna Muhammad Rasulullah, (mereka tidak
memahaminya seperti yang kita fahami, yaitu membenarkan apa yang beliau
sampaikan, mentaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang
beliau larang dan peringatkan dan Allah tidak diibadahi kecuali dengan
apa yang beliau syariatkan). Pemahaman ini tidak ada di kalangan jama'ah
tabligh, bahkan kadang-kadang mereka mengkultuskan individu-individu
tertentu dan menyatakan mereka memiliki 'Ishmah (tidak akan salah). Dan
sampai-sampai bila para syaikhnya mati, mereka bangun di atas kuburannya
bangunan-bangunan dalam masjid. Tabligh adalah firqah, tanpa perlu
diragukan lagi. Karena menyelisihi firqatun Najiyah. Mereka memiliki
manhaj khusus. Yang tidak ikut ke dalamnya tidak dianggap sebagai orang
yang mendapat hidayah. Tabligh membagi manusia menjadi: Muhtadi (orang
yang mendapat hidayah) dan manusia yang masih diharapkan mendapat
hidayah (tim penggembira saja –pent). Golongan Muhtadi adalah yang telah
masuk keseluruhan dalam tandhim (keorganisasian) dan firqah mereka. Dan
yang non Muhtadi, tidak termasuk golongan mereka walaupun dia imam kaum
muslimin. Ini dalam pemahaman mereka.
Ikhwanul Muslimin juga
demikian, yang termasuk tandhim mereka adalah Ikhwanul Muslimin dan yang
tidak masuk, maka bukan Ikhwanul Muslimin walaupun orang itu adalah
alim dalam Islam. Cukup sikap ta'ashshub ini menjadi dalil bahwa mereka
telah mengeluarkan diri-diri mereka sendiri dari jama'ah kaum muslimin.
Karena jama'ah kaum muslimin tidak menganggap bahwa hidayah hanya sampai
kepada mereka saja. Dan manhaj mereka adalah manhaj yang paling luas,
karena mereka tidak mencap setiap orang yang tidak sefaham dengan mereka
sebagai orang kafir. Tapi mereka masih mengakui bahwa mereka adalah
kaum muslimin dan mengharapkan agar dia mendapat hidayah. Meskipun orang
itu mengkafirkan mereka, mereka tetap tidak membalasnya dengan
mengkafirkannya pula. Maka manhaj Firqatun Najiyah adalah manhaj yang
paling luas dalam hal ini. Wallahu A'lam.
(Semua fatwa ini diambil dari kaset Al Qaulul Baligh 'ala Dzammi Jama'atit Tabligh)
9. Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'i hafidhahullah
Setelah
membawakan pendirian beliau terhadap Ikhwanul Muslimin beliau berkata:
"Adapun Jama'ah tabligh, silakan engkau membaca apa yang dituturkan
syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al Washshabi, ia berkata:
1. Mereka mengamalkan hadits-hadits dla'if (lemah) bahkan maudlu' (palsu) serta Laa Ashla Lahu (tidak ada asalnya).
2.
Tauhid mereka penuh dengan bid'ah, bahkan dakwah mereka berdasarkan
bid'ah. Karena dakwah mereka berdasarkan Al Faqra (kefakiran) yaitu
khuruj (keluar). Dan ini diharuskan di setiap bulan 3 hari, setiap tahun
40 hari dan seumur hidup 4 bulan, dan setiap pekan 2 jaulah... jaulah
pertama di Masjid yang didirikan shalat padanya dan yang kedua
berpindah-pindah. Di setiap hari ada 2 halaqah, halaqah pertama di
masjid yang didirikan shalat padanya, yang kedua di rumah. Mereka tidak
senang kepada seseorang kecuali bila dia mengikuti mereka. Tidak
diragukan lagi bahwa ini adalah bid'ah dalam agama yang tidak
diperbolehkan Allah Ta'ala.
3. Mereka berpendapat bahwa dakwah kepada tauhid akan memecah belah ummat saja.
4. Mereka berpendapat bahwa dakwah kepada sunnah juga memecah belah ummat.
5.
Pemimpin mereka berkata dengan tegas bahwa: Bid'ah yang bisa
mengumpulkan manusia lebih baik daripada sunnah yang memecah belah
manusia.
6. Mereka menyuruh manusia untuk tidak menuntut ilmu yang bermanfaat secara isyarat atau terang-terangan.
7.
Mereka berpendapat bahwa manusia tidak bisa selamat kecuali dengan cara
mereka. Dan mereka membuat permisalan dengan perahu Nabi Nuh 'alaihis
salam, siapa yang naik akan selamat dan siapa yang enggan akan hancur.
Mereka berkata: "Sesungguhnya dakwah kita seperti perahu Nabi Nuh." Ini
saya dengar dengan telinga saya sendiri di Urdun (Yordania –ed) dan
Yaman.
8. Mereka tidak menaruh perhatian terhadap tauhid Uluhiyyah dan Asma` was Sifat.
9.
Mereka tidak mau menuntut ilmu dan berpendapat bahwa waktu yang
digunakan untuk itu hanya sia-sia belaka." (Dinukil dari kutaib Hadzihi
Da'watuna wa 'Aqidatuna, Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi'i hafidhahullah
hal. 15-17)
Sumber: Buletin Islamy Al Manhaj edisi VI/1419 H/1998 M