Al Ustadz Ruwaifi’ Bin Sulaimi Lc.
Selubung Makar di Balik Julukan Wahhabi
Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam,
ada sebuah fenomena ‘timpang’ dan penilaian ‘miring’ terhadap dakwah
tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi
An-Najdi rahimahullahu [1]. Julukan Wahhabi pun
dimunculkan, tak lain tujuannya adalah untuk menjauhkan umat darinya.
Dari manakah julukan itu? Siapa pelopornya? Dan apa rahasia di balik itu
semua …?
Para pembaca, dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab merupakan dakwah pembaharuan terhadap agama umat manusia.
Pembaharuan, dari syirik menuju tauhid dan dari bid’ah menuju As-Sunnah.
Demikianlah misi para pembaharu sejati dari masa ke masa, yang menapak
titian jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para
shahabatnya. Fenomena ini membuat gelisah musuh-musuh Islam, sehingga
berbagai macam cara pun ditempuh demi hancurnya dakwah tauhid yang
diemban Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya.
Musuh-musuh tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Di Najd dan sekitarnya:
- Para ulama suu’ yang memandang al-haq sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai al-haq.
- Orang-orang yang dikenal sebagai ulama namun tidak mengerti tentang hakekat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya.
- Orang-orang yang takut kehilangan kedudukan dan jabatannya.
(Lihat Tash-hihu Khatha’in Tarikhi Haula
Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir hal.90-91,
ringkasan keterangan Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz)
2. Di dunia secara umum:
Mereka adalah kaum kafir Eropa; Inggris, Prancis dan
lain-lain, Daulah Utsmaniyyah, kaum Shufi, Syi’ah Rafidhah, Hizbiyyun
dan pergerakan Islam; Al-Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, dan
para kaki tangannya.
Bentuk permusuhan mereka beragam. Terkadang dengan
fisik (senjata) dan terkadang dengan fitnah, tuduhan dusta, isu negatif
dan sejenisnya. Adapun fisik (senjata), maka banyak diperankan oleh
Dinasti Utsmani yang bersekongkol dengan barat (baca: kafir Eropa)
–sebelum keruntuhannya–. Demikian pula Syi’ah Rafidhah dan para
hizbiyyun. Sedangkan fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya,
banyak dimainkan oleh kafir Eropa melalui para missionarisnya, kaum
shufi, dan tak ketinggalan pula Syi’ah Rafidhah dan hizbiyyun [2].
Dan ternyata, memunculkan istilah ‘Wahhabi’ sebagai julukan bagi
pengikut dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, merupakan trik
sukses mereka untuk menghempaskan kepercayaan umat kepada dakwah tauhid
tersebut. Padahal, istilah ‘Wahhabi’ itu sendiri merupakan penisbatan
yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin
Baz berkata: “Penisbatan (Wahhabi -pen) tersebut tidak sesuai dengan
kaidah bahasa Arab. Semestinya bentuk penisbatannya adalah
‘Muhammadiyyah’, karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah
Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab.” (Lihat Imam wa Amir
wa Da’watun Likullil ‘Ushur, hal. 162)
Tak cukup sampai di situ. Fitnah, tuduhan dusta, isu
negatif dan sejenisnya menjadi sejoli bagi julukan keji tersebut. Tak
ayal, yang lahir adalah ‘potret’ buruk dan keji tentang dakwah
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang tak sesuai dengan realitanya.
Sehingga istilah Wahhabi nyaris menjadi momok dan monster yang
mengerikan bagi umat. Fenomena timpang ini, menuntut kita untuk jeli
dalam menerima informasi. Terlebih ketika narasumbernya adalah orang
kafir, munafik, atau ahlul bid’ah. Agar kita tidak dijadikan
bulan-bulanan oleh kejamnya informasi orang-orang yang tidak bertanggung
jawab itu.
Meluruskan Tuduhan Miring tentang Wahhabi
1. Tuduhan: Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang mengaku sebagai Nabi [3], ingkar terhadap Hadits nabi [4], merendahkan posisi Nabi, dan tidak mempercayai syafaat beliau.
Bantahan:
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang sangat
mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini terbukti dengan
adanya karya tulis beliau tentang sirah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, baik Mukhtashar Siratir Rasul, Mukhtashar Zadil Ma’ad Fi Hadyi
Khairil ‘Ibad atau pun yang terkandung dalam kitab beliau Al-Ushul
Ats-Tsalatsah.
Beliau berkata: “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
wafat –semoga shalawat dan salam-Nya selalu tercurahkan kepada beliau–,
namun agamanya tetap kekal. Dan inilah agamanya; yang tidaklah ada
kebaikan kecuali pasti beliau tunjukkan kepada umatnya, dan tidak ada
kejelekan kecuali pasti beliau peringatkan. Kebaikan yang telah beliau
sampaikan itu adalah tauhid dan segala sesuatu yang dicintai dan
diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan kejelekan yang beliau
peringatkan adalah kesyirikan dan segala sesuatu yang dibenci dan
dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus
beliau kepada seluruh umat manusia, dan mewajibkan atas tsaqalain; jin
dan manusia untuk menaatinya.” (Al-Ushul Ats-Tsalatsah)
Beliau juga berkata: “Dan jika kebahagiaan umat terdahulu dan yang
akan datang karena mengikuti para Rasul, maka dapatlah diketahui bahwa
orang yang paling berbahagia adalah yang paling berilmu tentang ajaran
para Rasul dan paling mengikutinya. Maka dari itu, orang yang paling
mengerti tentang sabda para Rasul dan amalan-amalan mereka serta
benar-benar mengikutinya, mereka itulah sesungguhnya orang yang paling
berbahagia di setiap masa dan tempat. Dan merekalah golongan yang
selamat dalam setiap agama. Dan dari umat ini adalah Ahlus Sunnah wal
Hadits.” (Ad-Durar As-Saniyyah, 2/21)
Adapun tentang syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka
beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim–: “Aku beriman
dengan syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliaulah orang
pertama yang bisa memberi syafaat dan juga orang pertama yang diberi
syafaat. Tidaklah mengingkari syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
ini kecuali ahlul bid’ah lagi sesat.” (Tash-hihu Khatha’in Tarikhi
Haula Al-Wahhabiyyah, hal. 118)
2. Tuduhan: Melecehkan Ahlul Bait
Bantahan:
Beliau berkata dalam Mukhtashar Minhajis Sunnah: “Ahlul Bait
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai hak atas umat ini
yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Mereka berhak mendapatkan
kecintaan dan loyalitas yang lebih besar dari seluruh kaum Quraisy…”
(Lihat ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah,
1/446)
Di antara bukti kecintaan beliau kepada Ahlul Bait adalah
dinamainya putra-putra beliau dengan nama-nama Ahlul Bait: ‘Ali, Hasan,
Husain, Ibrahim dan Abdullah.
3. Tuduhan: Bahwa beliau
sebagai Khawarij, karena telah memberontak terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah.
Al-Imam Al-Lakhmi telah berfatwa bahwa Al-Wahhabiyyah adalah salah satu
dari kelompok sesat Khawarij ‘Ibadhiyyah, sebagaimana disebutkan dalam
kitab Al-Mu’rib Fi Fatawa Ahlil Maghrib, karya Ahmad bin Muhammad
Al-Wansyarisi, juz 11.
Bantahan:
Adapun pernyataan bahwa Asy-Syaikh telah memberontak terhadap
Daulah Utsmaniyyah, maka ini sangat keliru. Karena Najd kala itu tidak
termasuk wilayah teritorial kekuasaan Daulah Utsmaniyyah [5].
Demikian pula sejarah mencatat bahwa kerajaan Dir’iyyah belum pernah
melakukan upaya pemberontakan terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah. Justru
merekalah yang berulang kali diserang oleh pasukan Dinasti Utsmani.
Lebih dari itu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan –dalam
kitabnya Al-Ushulus Sittah–: “Prinsip ketiga: Sesungguhnya di antara
(faktor penyebab) sempurnanya persatuan umat adalah mendengar lagi taat
kepada pemimpin (pemerintah), walaupun pemimpin tersebut seorang budak
dari negeri Habasyah.”Dari sini nampak jelas, bahwa sikap Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap waliyyul amri (penguasa) sesuai
dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan ajaran
Khawarij.
Mengenai fatwa Al-Lakhmi, maka yang dia maksudkan adalah Abdul
Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum dan kelompoknya, bukan Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. Hal ini karena tahun
wafatnya Al-Lakhmi adalah 478 H, sedangkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab wafat pada tahun 1206 H /Juni atau Juli 1792 M. Amatlah janggal
bila ada orang yang telah wafat, namun berfatwa tentang seseorang yang
hidup berabad-abad setelahnya. Adapun Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin
Rustum, maka dia meninggal pada tahun 211 H. Sehingga amatlah tepat bila
fatwa Al-Lakhmi tertuju kepadanya. Berikutnya, Al-Lakhmi merupakan
mufti Andalusia dan Afrika Utara, dan fitnah Wahhabiyyah Rustumiyyah ini
terjadi di Afrika Utara. Sementara di masa Al-Lakhmi, hubungan antara
Najd dengan Andalusia dan Afrika Utara amatlah jauh. Sehingga bukti
sejarah ini semakin menguatkan bahwa Wahhabiyyah Khawarij yang
diperingatkan Al-Lakhmi adalah Wahhabiyyah Rustumiyyah, bukan Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya [6].
Lebih dari itu, sikap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap
kelompok Khawarij sangatlah tegas. Beliau berkata –dalam suratnya untuk
penduduk Qashim–: “Golongan yang selamat itu adalah kelompok
pertengahan antara Qadariyyah dan Jabriyyah dalam perkara taqdir,
pertengahan antara Murji’ah dan Wa’idiyyah (Khawarij) dalam perkara
ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, pertengahan antara Haruriyyah
(Khawarij) dan Mu’tazilah serta antara Murji’ah dan Jahmiyyah dalam
perkara iman dan agama, dan pertengahan antara Syi’ah Rafidhah dan
Khawarij dalam menyikapi para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.” (Lihat Tash-hihu Khatha’in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal
117). Dan masih banyak lagi pernyataan tegas beliau tentang kelompok
sesat Khawarij ini.
4. Tuduhan: Mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka.[7]
Bantahan:
Ini merupakan tuduhan dusta terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab, karena beliau pernah mengatakan: “Kalau kami tidak (berani)
mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah
(kuburan/ makam) Abdul Qadir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad
Al-Badawi dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya
orang yang mengingatkannya. Bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan
orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak
berhijrah ke tempat kami…?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini
merupakan kedustaan yang besar.” (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun
Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, hal. 203)
5. Tuduhan: Wahhabiyyah adalah madzhab baru dan tidak mau menggunakan kitab-kitab empat madzhab besar dalam Islam.[8]
Bantahan:
Hal ini sangat tidak realistis. Karena beliau mengatakan –dalam
suratnya kepada Abdurrahman As-Suwaidi–: “Aku kabarkan kepadamu bahwa
aku –alhamdulillah– adalah seorang yang berupaya mengikuti jejak
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pembawa aqidah baru. Dan
agama yang aku peluk adalah madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang dianut
para ulama kaum muslimin semacam imam yang empat dan para pengikutnya.”
(Lihat Tash-hihu Khatha’in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal. 75)
Beliau juga berkata –dalam suratnya kepada Al-Imam Ash-Shan’ani–:
“Perhatikanlah –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu– apa yang
ada pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat
sepeninggal beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik
hingga hari kiamat. Serta apa yang diyakini para imam panutan dari
kalangan ahli hadits dan fiqh, seperti Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i
dan Ahmad bin Hanbal –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka–,
supaya engkau bisa mengikuti jalan/ ajaran mereka.” (Ad-Durar
As-Saniyyah 1/136)
Beliau juga berkata: “Menghormati ulama dan memuliakan mereka
meskipun terkadang (ulama tersebut) mengalami kekeliruan, dengan tidak
menjadikan mereka sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan jalan
orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun
mencemooh perkataan mereka dan tidak memuliakannya, maka ini merupakan
jalan orang-orang yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala (Yahudi).”
(Majmu’ah Ar-Rasa’il An-Najdiyyah, 1/11-12. Dinukil dari Al-Iqna’, karya
Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, hal.132-133)
6. Tuduhan: Keras dalam berdakwah (inkarul munkar)
Bantahan:
Tuduhan ini sangat tidak beralasan. Karena justru beliaulah orang
yang sangat perhatian dalam masalah ini. Sebagaimana nasehat beliau
kepada para pengikutnya dari penduduk daerah Sudair yang melakukan
dakwah (inkarul munkar) dengan cara keras. Beliau berkata: “Sesungguhnya
sebagian orang yang mengerti agama terkadang jatuh dalam kesalahan
(teknis) dalam mengingkari kemungkaran, padahal posisinya di atas
kebenaran. Yaitu mengingkari kemungkaran dengan sikap keras, sehingga
menimbulkan perpecahan di antara ikhwan… Ahlul ilmi berkata: ‘Seorang
yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar membutuhkan tiga hal: berilmu
tentang apa yang akan dia sampaikan, bersifat belas kasihan ketika
beramar ma’ruf dan nahi mungkar, serta bersabar terhadap segala gangguan
yang menimpanya.’ Maka kalian harus memahami hal ini dan
merealisasikannya. Sesungguhnya kelemahan akan selalu ada pada orang
yang mengerti agama, ketika tidak merealisasikannya atau tidak
memahaminya. Para ulama juga menyebutkan bahwasanya jika inkarul munkar
akan menyebabkan perpecahan, maka tidak boleh dilakukan. Aku
mewanti-wanti kalian agar melaksanakan apa yang telah kusebutkan dan
memahaminya dengan sebaik-baiknya. Karena, jika kalian tidak
melaksanakannya niscaya perbuatan inkarul munkar kalian akan merusak
citra agama. Dan seorang muslim tidaklah berbuat kecuali apa yang
membuat baik agama dan dunianya.”(Lihat Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.
176)
7. Tuduhan: Muhammad bin
Abdul Wahhab itu bukanlah seorang yang berilmu. Dia belum pernah belajar
dari para syaikh, dan mungkin saja ilmunya dari setan![9]
Jawaban:
Pernyataan ini menunjukkan butanya tentang biografi Asy-Syaikh,
atau pura-pura buta dalam rangka penipuan intelektual terhadap umat.
Bila ditengok sejarahnya, ternyata beliau sudah hafal Al-Qur’an
sebelum berusia 10 tahun. Belum genap 12 tahun dari usianya, sudah
ditunjuk sebagai imam shalat berjamaah. Dan pada usia 20 tahun sudah
dikenal mempunyai banyak ilmu. Setelah itu rihlah (pergi) menuntut ilmu
ke Makkah, Madinah, Bashrah, Ahsa’, Bashrah (yang kedua kalinya),
Zubair, kemudian kembali ke Makkah dan Madinah. Gurunya pun banyak [10], di antaranya adalah:
- Di Najd: Asy-Syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman [11] dan Asy-Syaikh Ibrahim bin Sulaiman [12].
- Di Makkah: Asy-Syaikh Abdullah bin Salim bin Muhammad Al-Bashri Al-Makki Asy-Syafi’i [13].
- Di Madinah: Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif [14]. Asy-Syaikh Muhammad Hayat bin Ibrahim As-Sindi Al-Madani [15], Asy-Syaikh Isma’il bin Muhammad Al-Ajluni Asy-Syafi’i [16], Asy-Syaikh ‘Ali Afandi bin Shadiq Al-Hanafi Ad-Daghistani [17] , Asy-Syaikh Abdul Karim Afandi, Asy-Syaikh Muhammad Al Burhani, dan Asy-Syaikh ‘Utsman Ad-Diyarbakri.
- Di Bashrah: Asy-Syaikh Muhammad Al-Majmu’i [18]. Di Ahsa’: Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Lathif Asy-Syafi’i.
8. Tuduhan: Tidak menghormati para wali Allah, dan hobinya menghancurkan kubah/ bangunan yang dibangun di atas makam mereka.
Jawaban:
Pernyataan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak
menghormati para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan tuduhan
dusta. Beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim–: “Aku
menetapkan (meyakini) adanya karamah dan keluarbiasaan yang ada pada
para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya saja mereka tidak berhak
diibadahi dan tidak berhak pula untuk diminta dari mereka sesuatu yang
tidak dimampu kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” [19]
Adapun penghancuran kubah/bangunan yang dibangun di atas makam
mereka, maka beliau mengakuinya –sebagaimana dalam suratnya kepada para
ulama Makkah–.[20] Namun hal itu sangat beralasan
sekali, karena kubah/ bangunan tersebut telah dijadikan sebagai tempat
berdoa, berkurban dan bernadzar kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sementara Asy-Syaikh sudah mendakwahi mereka dengan segala cara, dan
beliau punya kekuatan (bersama waliyyul amri) untuk melakukannya, baik
ketika masih di ‘Uyainah ataupun di Dir’iyyah.
Hal ini pun telah difatwakan oleh para ulama dari empat madzhab.
Sebagaimana telah difatwakan oleh sekelompok ulama madzhab Syafi’i
seperti Ibnul Jummaizi, Azh-Zhahir At-Tazmanti dll, seputar penghancuran
bangunan yang ada di pekuburan Al-Qarrafah Mesir. Al-Imam Asy-Syafi’i
sendiri berkata: “Aku tidak menyukai (yakni mengharamkan) pengagungan
terhadap makhluk, sampai pada tingkatan makamnya dijadikan sebagai
masjid.” Al-Imam An-Nawawi dalam Syarhul Muhadzdzab dan Syarh Muslim
mengharamkam secara mutlak segala bentuk bangunan di atas makam. Adapun
Al-Imam Malik, maka beliau juga mengharamkannya, sebagaimana yang
dinukilkan oleh Ibnu Rusyd. Sedangkan Al-Imam Az-Zaila’i (madzhab
Hanafi) dalam Syarh Al-Kanz mengatakan: “Diharamkan mendirikan bangunan
di atas makam.” Dan juga Al-Imam Ibnul Qayyim (madzhab Hanbali)
mengatakan: “Penghancuran kubah/ bangunan yang dibangun di atas kubur
hukumnya wajib, karena ia dibangun di atas kemaksiatan kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabit
Tauhid karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh, hal.284-286)
Para pembaca, demikianlah bantahan ringkas terhadap
beberapa tuduhan miring yang ditujukan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab. Untuk mengetahui bantahan atas tuduhan-tuduhan miring
lainnya, silahkan baca karya-karya tulis Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab, kemudian buku-buku para ulama lainnya seperti:
- Ad-Durar As-Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyyah, disusun oleh Abdurrahman bin Qasim An-Najdi
- Shiyanatul Insan ‘An Waswasah Asy-Syaikh Dahlan, karya Al-‘Allamah Muhammad Basyir As-Sahsawani Al-Hindi.
- Raddu Auham Abi Zahrah, karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan
Al-Fauzan, demikian pula buku bantahan beliau terhadap Abdul Karim
Al-Khathib.
- Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi.
- ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As Salafiyyah, karya Dr. Shalih bin Abdullah Al-’Ubud.
- Da’watu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Bainal Mu’aridhin wal
Munshifin wal Mu’ayyidin, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, dan
sebagainya.
Barakah Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan
dakwah yang penuh barakah. Buahnya pun bisa dirasakan hampir di setiap
penjuru dunia Islam, bahkan di dunia secara keseluruhan.
Di Jazirah Arabia [21]
Di Jazirah Arabia sendiri, pengaruhnya luar biasa. Berkat
dakwah tauhid ini mereka bersatu yang sebelumnya berpecah belah. Mereka
mengenal tauhid, ilmu dan ibadah yang sebelumnya tenggelam dalam
penyimpangan, kebodohan dan kemaksiatan. Dakwah tauhid juga mempunyai
peran besar dalam perbaikan akhlak dan muamalah yang membawa dampak
positif bagi Islam itu sendiri dan bagi kaum muslimin, baik dalam urusan
agama ataupun urusan dunia mereka. Berkat dakwah tauhid pula tegaklah
Daulah Islamiyyah (di Jazirah Arabia) yang cukup kuat dan disegani
musuh, serta mampu menyatukan negeri-negeri yang selama ini berseteru di
bawah satu bendera. Kekuasaan Daulah ini membentang dari Laut Merah
(barat) hingga Teluk Arab (timur), dan dari Syam (utara) hingga Yaman
(selatan), daulah ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan Daulah
Su’udiyyah I. Pada tahun 1233 H/1818 M daulah ini diporak-porandakan
oleh pasukan Dinasti Utsmani yang dipimpin Muhammad ‘Ali Basya. Pada
tahun 1238 H/1823 M berdiri kembali Daulah Su’udiyyah II yang
diprakarsai oleh Al-Imam Al-Mujahid Turki bin Abdullah bin Muhammad bin
Su’ud, dan runtuh pada tahun 1309 H/1891 M. Kemudian pada tahun 1319
H/1901 M berdiri kembali Daulah Su’udiyyah III yang diprakarsai oleh
Al-Imam Al-Mujahid Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman bin Faishal bin Turki Alu
Su’ud. Daulah Su’udiyyah III ini kemudian dikenal dengan nama
Al-Mamlakah Al-’Arabiyyah As-Su’udiyyah, yang dalam bahasa kita biasa
disebut Kerajaan Saudi Arabia. Ketiga daulah ini merupakan daulah
percontohan di masa ini dalam hal tauhid, penerapan Sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat Islam, keamanan, kesejahteraan
dan perhatian terhadap urusan kaum muslimin dunia (terkhusus Daulah
Su’udiyyah III). Untuk mengetahui lebih jauh tentang perannya, lihatlah
kajian utama edisi ini/Barakah Dakwah Tauhid.
Di Dunia Islam [22]
Dakwah tauhid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merambah dunia Islam,
yang terwakili pada Benua Asia dan Afrika, barakah Allah Subhanahu wa
Ta’ala pun menyelimutinya. Di Benua Asia dakwah tersebar di Yaman,
Qatar, Bahrain, beberapa wilayah Oman, India, Pakistan dan sekitarnya,
Indonesia, Turkistan, dan Cina. Adapun di Benua Afrika, dakwah Tauhid
tersebar di Mesir, Libya, Al-Jazair, Sudan, dan Afrika Barat. Dan hingga
saat ini dakwah terus berkembang ke penjuru dunia, bahkan merambah
pusat kekafiran Amerika dan Eropa.
Pujian Ulama Dunia terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Dakwah Beliau
Pujian ulama dunia terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab dan dakwahnya amatlah banyak. Namun karena terbatasnya
ruang rubrik, cukuplah disebutkan sebagiannya saja.[23]
1. Al-Imam Ash-Shan’ani (Yaman).
Beliau kirimkan dari Shan’a bait-bait pujian untuk Asy-Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab dan dakwahnya. Bait syair yang diawali dengan:
Salamku untuk Najd dan siapa saja yang tinggal sana
Walaupun salamku dari kejauhan belum mencukupinya
2. Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu (Yaman). Ketika
mendengar wafatnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau
layangkan bait-bait pujian terhadap Asy-Syaikh dan dakwahnya. Di
antaranya:
Telah wafat tonggak ilmu dan pusat kemuliaan
Referensi utama para pahlawan dan orang-orang mulia
Dengan wafatnya, nyaris wafat pula ilmu-ilmu agama
Wajah kebenaran pun nyaris lenyap ditelan derasnya arus sungai
3. Muhammad Hamid Al-Fiqi (Mesir). Beliau berkata:
“Sesungguhnya amalan dan usaha yang beliau lakukan adalah untuk
menghidupkan kembali semangat beramal dengan agama yang benar dan
mengembalikan umat manusia kepada apa yang telah ditetapkan dalam
Al-Qur’an…. dan apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, serta apa yang diyakini para shahabat, para tabi’in dan para
imam yang terbimbing.”
4. Dr. Taqiyuddin Al-Hilali (Irak). Beliau berkata:
“Tidak asing lagi bahwa Al-Imam Ar-Rabbani Al-Awwab Muhammad bin Abdul
Wahhab, benar-benar telah menegakkan dakwah tauhid yang lurus.
Memperbaharui (kehidupan umat manusia) seperti di masa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Dan mendirikan
daulah yang mengingatkan umat manusia kepada daulah di masa Al-Khulafa’
Ar-Rasyidin.”
5. Asy-Syaikh Mulla ‘Umran bin ‘Ali Ridhwan (Linjah, Iran). Beliau –ketika dicap sebagai Wahhabi– berkata:
Jikalau mengikuti Ahmad dicap sebagai Wahhabi
Maka kutegaskan bahwa aku adalah Wahhabi
Kubasmi segala kesyirikan dan tiadalah ada bagiku
Rabb selain Allah Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Pemberi
6. Asy-Syaikh Ahmad bin Hajar Al-Buthami (Qatar).
Beliau berkata: “Sesungguhnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
An-Najdi adalah seorang da’i tauhid, yang tergolong sebagai pembaharu
yang adil dan pembenah yang ikhlas bagi agama umat.”
7. Al ‘Allamah Muhammad Basyir As-Sahsawani (India).
Kitab beliau Shiyanatul Insan ‘An Waswasah Asy-Syaikh Dahlan, sarat akan
pujian dan pembelaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan
dakwahnya.
8. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Syam).
Beliau berkata: “Dari apa yang telah lalu, nampaklah kedengkian yang
sangat, kebencian durjana, dan tuduhan keji dari para penjahat
(intelektual) terhadap Al-Imam Al Mujaddid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dan
mengaruniainya pahala–, yang telah mengeluarkan manusia dari gelapnya
kesyirikan menuju cahaya tauhid yang murni…”
9. Ulama Saudi Arabia. Tak terhitung banyaknya pujian
mereka terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya,
turun-temurun sejak Asy-Syaikh masih hidup hingga hari ini.
Penutup
Akhir kata, demikianlah sajian kami seputar Wahhabi
yang menjadi momok di Indonesia pada khususnya dan di dunia Islam pada
umumnya. Semoga sajian ini dapat menjadi penerang di tengah gelapnya
permasalahan, dan pembuka cakrawala berfikir untuk tidak berbicara dan
menilai kecuali di atas pijakan ilmu.
Wallahu a’lam bish-shawab.
[1] Biografi beliau bisa dilihat pada Majalah Asy Syari’ah, edisi 21, hal. 71.
[2] Untuk lebih rincinya lihat kajian utama edisi ini/Musuh-musuh Dakwah Tauhid.
[3] Sebagaimana yang dinyatakan Ahmad Abdullah
Al-Haddad Baa ‘Alwi dalam kitabnya Mishbahul Anam, hal. 5-6 dan Ahmad
Zaini Dahlan dalam dua kitabnya Ad-Durar As-Saniyyah Firraddi ‘alal
Wahhabiyyah, hal. 46 dan Khulashatul Kalam, hal. 228-261.
[4] Sebagaimana dalam Mishbahul Anam.
[5] Sebagaimana yang diterangkan pada kajian utama edisi ini/Hubungan Najd dengan Daulah Utsmaniyyah.
[6] Untuk lebih rincinya bacalah kitab Tash-hihu
Khatha’in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad
Asy-Syuwai’ir.
[7] Sebagaimana yang dinyatakan Ibnu ‘Abidin Asy-Syami dalam kitabnya Raddul Muhtar, 3/3009.
[8] Termaktub dalam risalah Sulaiman bin Suhaim.
[9] Tuduhan Sulaiman bin Muhammad bin Suhaim, Qadhi Manfuhah.
[10] Lihat ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 1/143-171.
[11] Ayah beliau, dan seorang ulama Najd yang terpandang di masanya dan hakim di ‘Uyainah.
[12] Paman beliau, dan sebagai hakim negeri Usyaiqir.
[13] Hafizh negeri Hijaz di masanya.
[14] Seorang faqih terpandang, murid para ulama Madinah
sekaligus murid Abul Mawahib (ulama besar negeri Syam). Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab mendapatkan ijazah dari guru beliau ini untuk
meriwayatkan, mempelajari dan mengajarkan Shahih Al-Bukhari dengan
sanadnya sampai kepada Al-Imam Al-Bukhari serta syarah-syarahnya, Shahih
Muslim serta syarah-syarahnya, Sunan At-Tirmidzi dengan sanadnya, Sunan
Abi Dawud dengan sanadnya, Sunan Ibnu Majah dengan sanadnya, Sunan
An-Nasa‘i Al-Kubra dengan sanadnya, Sunan Ad-Darimi dan semua karya
tulis Al-Imam Ad-Darimi dengan sanadnya, Silsilah Al-‘Arabiyyah dengan
sanadnya dari Abul Aswad dari ‘Ali bin Abi Thalib, semua buku Al-Imam
An-Nawawi, Alfiyah Al-’Iraqi, At-Targhib Wat Tarhib, Al-Khulashah karya
Ibnu Malik, Sirah Ibnu Hisyam dan seluruh karya tulis Ibnu Hisyam, semua
karya tulis Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani, buku-buku Al-Qadhi
‘Iyadh, buku-buku qira’at, kitab Al-Qamus dengan sanadnya, Musnad
Al-Imam Asy-Syafi’i, Muwaththa’ Al-Imam Malik, Musnad Al-Imam Ahmad,
Mu’jam Ath-Thabrani, buku-buku As-Suyuthi dsb.
[15] Ulama besar Madinah di masanya.
[16] Penulis kitab Kasyful Khafa‘ Wa Muzilul Ilbas ‘Amma Isytahara ‘Ala Alsinatin Nas.
[17] Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bertemu
dengannya di kota Madinah dan mendapatkan ijazah darinya seperti yang
didapat dari Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif.
[18] Ulama terkemuka daerah Majmu’ah, Bashrah.
[19] Lihat Tash-hihu Khatha’in Tarikhi Haula Al Wahhabiyyah, hal. 119
[20] Ibid, hal. 76.
[21] Diringkas dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad bin
‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil ‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad bin
Abdullah As-Salman, yang dimuat dalam Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah
edisi. 21, hal. 140-145.
[22] Diringkas dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad
bin ‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil ‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad
bin Abdullah As Salman, yang dimuat dalam Majallah Al-Buhuts
Al-Islamiyyah edisi. 21, hal.146-149.
[23] Untuk mengetahui lebih luas, lihatlah kitab
Da’watu Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Bainal Mu’aridhin wal
Munshifin wal Mu’ayyidin, hal. 82-90, dan ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad
bin ‘Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 2/371-474.
Sumber: Majalah Asy Syariah
Edisi II/No 22/1427 H/2006
Judul Asli: Siapakah Wahhabi ?