Khamis, 10 Mei 2012

KUMPULAN NASEHAT SALAFUS SHOLEH 1




KUMPULAN NASEHAT SALAFUS SHOLEH



Ibnul Qayyim Rah.a (Salafus Soleh) pernah berkata, “Sungguh aneh! Seorang manusia bisa mengendalikan dirinya dari berbagai perkara yang diharamkan, akan tetapi amat berat baginya mengendalikan ucapan lisannya. Anda melihat seorang yang dipandang alim agamanya, zuhud terhadap dunia dan ahli beribadah, namun ia berbicara dengan kata-kata yang tanpa disadarinya mendatangkan kemurkaan Allah Subhaanahu Wata'ala dan menyebabkan ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat.”


Ibnul Qayyim Rah.a (Salafus Soleh) pernah berkata, “Menyia-nyiakan waktu (luang) lebih berbahaya daripada kematian; Karena sesungguhnya menyia-nyiakan waktu (luang) memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian memutuskanmu dari dunia dan penduduknya.”


‘Amrah istri dari Hubaib al-‘Ajmi Rah.a (Salafus Soleh) biasa membangunkan suaminya di malam hari sambil berkata, “Wahai suamiku, bangunlah (untuk melakukan shalat malam)! Sebagian malam telah berlalu meninggalkanmu. Di hadapanmu ada perjalanan jauh yang sangat melelahkan, sedangkan bekalmu hanya sedikit. Rombongan orang-orang shalih telah jauh meninggalakan kita, sedang kita masih tetap berdiam di tempat kita semula.”

al-Fudhail bin ‘Iyadh Rah.a (Salafus Soleh) pernah berkata, “Lima tanda dari tanda-tanda kebinasaan seseorang : (1) kerasnya hati, (2) bekunya air mata untuk menangis karena takut kepada Allah, (3) sedikitnya rasa malu, (4) besarnya kecintaan kepada dunia dan (5) panjangnya angan-angan.”

Menjelang detik-detik kematiannya, ‘Umar bin al-‘Ash Rah.a (Salafus Soleh) berkata, “Ya Allah, Engkau telah memerintahkan kami (untuk melakukan kebaikan), akan tetapi kami mendurhakainya dan meninggalkanya. Sebaliknya, Engkau telah melarang kami (untuk melakukan keburukan), akan tetapi kami justru mengerjakannya. Tidak ada yang mampu kami lakukan kecuali mengucapkan “Laa ilaaha illallah.”” Beliau pun kemudian mengulang-ulang kalimat “Laa ilaaha illallah” hingga beliau meninggal dunia.

Ad-Daqqaq Rah.a (Salafus Soleh) pernah berkata, “Barangsiapa memperbanyak mengingat kematian, maka ia akan dianugerahi tiga perkara : (1) bersegera untuk bertaubat, (2) ketenangan dan ketenteraman hati dan (3) semangat untuk beribadah. Sebaliknya, barangsiapa yang melupakan kematian, maka ia akan dihukum dengan tiga perkara : (1) menunda-nunda taubat, (2) kegelisahan dan kegundahan hati dan (3) rasa malas untuk beribadah.”

Ibnul Jauzi Rah.a (Salafus Soleh) berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya keadaan orang-orang yang banyak berdzikir (mengingat Allah) berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Diantara mereka ada yang lebih mengutamakan membaca al-Qur’an dan mendahulukannya dari dzikir-dzikir yang lainnya. Dan diantara mereka ada pula yang lebih memilih untuk memperbanyak membaca tahlil, tasbih dan tahmid.”

Ibnu Rajab Rah.a (Salafus Soleh) berkata, : Diantara amalan sunnah yang paling agung yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah adalah membaca al-Qur’an, mendengarkannya, mentadabburinya dan memahami maknanya.


Imam Abu al-‘Izz al-Hanafi Rah.a (Salafus Soleh) berkata, “Tidaklah seorang hamba merahasiakan sesuatu dalam hatinya, melainkan Allah Subhaanahu wata'ala akan menampakannya melalui ucapan lisannya.” (Syarh ath-Thahawiyah)


Syumaith Rah.a (Salafus Soleh) pernah berkata, “Sesungguhnya Allah meletakkan kekuatan orang beriman di dalam hatinya, bukan pada anggota tubuhnya. Tidakkah Anda memperhatikan orang tua yang sudah lemah fisiknya tapi masih mampu berpuasa di siang yang sangat panas dan bangun di malam hari untuk melakukan shalat malam? Padahal banyak orang-orang yang masih muda lagi kuat fisiknya tidak sanggup untuk melaksanakannya.” (Dari kitab Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Abu Mu’awiyah al-Aswad Rah.a (Salafus Soleh) pernah berkata, “Seluruh manusia – yang baik maupun yang jahat – berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang lebih rendah (nilainya di sisi Allah) daripada sayap lalat.” Lalu seseorang bertanya kepadanya, ”Apakah yang lebih rendah (nilainya di sisi Allah) daripada sayap lalat itu?” Ia menjawab, “Dunia.” (Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)





Abu Hazim Rah.a (Salafus Soleh) pernah berkata, “Ada dua perkara yang jika Anda Amalkan, Anda akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Dan aku tidak akan berpanjang lebar untuk menjelaskan kedua perkara tersebut kepada Anda.”
Kemudian ia ditanya, “Apa dua perkara itu?” Abu Hazim menjawab, “Menerima sesuatu yang tidak Anda sukai, jika sesuatu itu disukai Allah. Dan membenci sesuatu yang Anda sukai, jika sesuatu itu dibenci oleh Allah.”


Berkata Yahya bin Mu’adz Rah.a (Salafus Soleh), ”Hendaknya setiap mukmin memperoleh tiga macam perlakuan darimu; Jika kamu tidak dapat memberinya sesuatu manfaat maka janganlah membahayakannya, jika kamu tidak bisa membahagiakannya maka janganlah membuatnya sedih, dan jika kamu tidak memujinya maka janganlah mencelanya.”

Tiada ulasan: