Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Hafizhahulloh
Firanda memfitnah ulama Ahlus Sunnah
Gelar
“kadzdzab” (gemar berdusta) yang disematkan oleh salah seorang ulama
besar di Madinah Asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim Al-Bukhari
Hafizhahullah kepada seorang pelajar di Madinah yang bernama Firanda
Andirja memang merupakan gelar yang layak disandangnya. Mengapa tidak,
Firanda seakan tiada henti menghembuskan fitnahnya dengan menyebarkan
berbagai kedustaan dikalangan salafiyyin dengan menyebarkan
berita-berita palsu yang kandungannya adalah upaya merendahkan kedudukan
para ulama dan Da’i Ahlus sunnah ditengah umatnya.
Belum lama
kita mendengarkan “haditsul ifk” Firanda yang menyebarkan fitnah dusta
dengan mengatasnamakan Asy-Syaikh Rabi’ bahwa Beliau meninggalkan kota
Madinah dan menetap di Makkah karena diusir dari Madinah. “Subahanaka
hadza buhtaanun ‘azhim”, betapa lancangnya anda berdusta atas nama
seorang yang disebut oleh Imam Al-Albani sebagai “pembawa bendera
al-jarhu wat-ta’dil” dizaman ini.
Mungkin dia berkata: bukan saya yang mengatakan itu, tapi saya hanya menukil.
Kami
katakan: Anda terkena ucapan anda sendiri, bukankah anda sendiri
menyebutkan dalam “buku fitnah” anda yang berjudul “lerai pertikaian
sudahi permusuhan” sebagai berikut:
“Imam al-Bukhari meriwayatkan
dalam kitabnya, al-Adab al-Mufrad (no.324), demikian juga Ibnu Abid
Dun-ya dalam kitabnya, ash-shamt (no.260), dan dihasankan oleh Syaikh
al-Albani dalam shahih al-Adab (no.247), dari ‘Ali, ia berkata:
القَائِلُ كَلِمَةَ الزُّوْرِ وَالذِيْ يَمُدُّ بِحَبْلِهَا فِي الإِثْمِ سَوَاءٌ
“Pengucap perkataan dusta adalah sama dosanya dengan orang yang memanjangkan tali perkataan tersebut.”
Makna ucapan ‘Ali “yang memanjangkan tali perkataan tersebut”, yaitu menyebarkannya.”
(Dinukil dari buku fitnah Firanda, hal:26)
Tak
lama setelah itu, ia kembali berulah di kota Nabi Shallallohu ‘alaihi
wasallam, dengan menyebarkan berita palsu berikutnya bahwa Asy-Syaikh
Abdullah Al-Bukhari –Hafizhahullah Ta’ala- menjelekkan Syaikh
Abdurrazzaq Al-Abbad –Hafizhahullah-, yang menyebabkan Syaikh Abdullah
Al-Bukhari marah besar kepadanya dan tidak memaafkannya hingga dia
datang kerumah Beliau. Menurut berita dari Syaikh Al-Bukhari bahwa dia
telah datang untuk meminta maaf,namun gelar “pendusta” tersebut masih
saja Beliau sematkan kepada hamba Allah yang satu ini, dan gelar itu
memang pantas disematkan kepadanya. Selamat berbahagia dengan gelar ini
wahai Firanda dari salah seorang ulama besar Madinah Nabawiyyah.
Anehnya, Firanda menyebutkan dalam buku fitnahnya (hal:32), ia berkata:
“Ada
sebagian orang yang tidak bisa mengendalikan lisannya.Tidak peduli
dengan apa yang diucapkannya.Tidak peduli siapapun yang sedang ia
ghibah, yang ia bicarakan, yang ia rendahkan, yang ia jatuhkan harga
dirinya.”
(Buku fitnah Firanda:32)
Benar apa yang anda
katakan, terlebih lagi kalau yang sedang dibicarakan itu seorang ulama
senior yang dikenal sebagai pembela sunnah Rasulullah Shallallohu
‘alaihi wasallam, dan pembela manhaj salafi, semisal Syaikh Rabi’
Hafizhahullah Ta’ala.Al-Hafizh Ibnu Asakir rahimahullah berkata:
اعلم
يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته وجعلنا ممن يخشاه ويتقيه حق تقاته أن
لحوم العلماء مسمومة وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة وأن من أطلق
لسانه في العلماء بالثلب بلاه الله قبل موته بموت القلب فليحذر الذين
يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم
“Ketahuilah
wahai saudaraku –semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kami dan
kalian untuk menggapai ridha-Nya dan menjadikan kami dan kalian termasuk
orang- orang yang takut kepada-Nya dan bertakwa kepada-Nya- bahwa
sesungguhnya daging para ulama itu beracun, dan kebiasaan Allah ‘azza
wajalla, dalam membongkar kedok orang- orang yang merendahkannya adalah
hal yang telah dimaklumi, dan barangsiapa yang melontarkan ucapannya
dengan menjelekkan para ulama, maka Allah ‘Azza waJalla, menghukumnya
sebelum dia mati dengan kematian hatinya, hendaknya berhati- hati orang-
orang yang menyelisihi perintahnya akan tertimpa fitnah atau tertimpa
azab yang pedih.”
Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullah:
من استخف بالعلماء ذهبت آخرته ومن استخف بالأمراء ذهبت دنياه ومن استخف بالإخوان ذهبت مروءته
“Barangsiapa
yang merendahkan para ulama maka hilang akhiratnya, dan siapa yang
merendahkan penguasa maka hilang dunianya, dan siapa yang merendahkan
saudaranya maka hilang harga dirinya.”
Berkata Ahmad bin Adzro’i rahimahullah:
الوقيعة في أهل العلم لا سيما أكابرهم من كبائر الذنوب
“Mencela para ulama terkhusus yang senior dikalangan mereka termasuk dosa besar.”
Berkata Malik bin Dinar:
كفى بالمرء شرا ألا يكون صالحا وهو يقع في الصالحين
“Cukuplah kejahatan bagi seseorang yang menunjukkan dia bukan orang saleh tatkala dia merendahkan orang- orang saleh.”
Syaikh Abdul Aziz Sadhan –hafizhahullah- berkata:
“Berhati-hatilah
dari sifat lancang dengan lisan dan telunjuknya terhadap lembaran hidup
para ulama, dan berusaha memperburuk citra mereka atau menyebarkan
berbagai tuduhan atas mereka.Sebab hal itu akan membuka pintu kejahatan
yang lebar, yang dapat menyeretnya kepada kerusakan dan membuat
kerusakan baik secara hakiki maupun secara maknawi, bukan hanya menimpa
yang mengucapkannya saja, namun menyebabkan rusaknya seluruh
masyarakat.Untuk menjelaskan bahayanya perkara ini dikatakan bahwa:
sesungguhnya merendahkan para ulama dan meremehkan mereka, lebih besar
dosa dan kejahatannya dibanding merendahkan selain mereka. Sebab
merendahkan para ulama bukan hanya sekedar merendahkan pribadinya saja,
namun mengarah kepada sikap merendahkan apa yang mereka bawa berupa
ilmu, dan apa yang mereka miliki dari agama dan akhlaq.Oleh karenanya,
dikhawatirkan atas orang yang merendahkan para ulama akan ditimpa
hukuman yang disegerakan, disebabkan buruknya perbuatan dan
kejahatannya.”
(Manzilatul ulama,Syaikh As-Sadhan,hal:33)
Lalu beliau menyebutkan salah satu bentuk merendahkan para ulama:
“Mengotori
lisannya dengan meng-ghibah mereka atau tidak membela kehormatan mereka
tatkala dighibahi, dan musibah yang terbesar adalah tatkala seseorang
merasa nikmat dengan merusak kehormatan mereka baik dengan ucapan,
pendengaran atau menunjukkan tanda menerima. Perbuatan ini menunjukkan
keburukan hati dan kejelekan maksud, bagaimana mungkin dia menghalalkan
dirinya untuk melakukan perbuatan yang kotor itu. Mengghibah seorang
muslim adalah haram berdasarkan nash al-Qur’an
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Dan jangan sebagian kalian mengghibah sebagian lainnya.”
(QS.Al-Hujurat:12)
Sebab
seorang muslim yang tidak berilmu memiliki kemuliaan dengan sebab
islam, lalu bagaimana dengan seorang alim yang kedudukannya jauh lebih
mulia dibanding yang lain, dengan kemuliaan ilmunya dan besar
manfaatnya?.”
(Manzilatul ulama:55)
Namun ternyata
kebiasaan berdusta Firanda tidak juga berhenti, dan gelar yang telah
dilekatkan kepadanya tidak membuatnya jera dan bertaubat kepada Allah
‘Azza waJalla, bahkan masih saja terus menyebarkan fitnah dan dusta.
(Bersambung insya Allah…. Dengan judul: SIAPA YANG MEYEMBUNYIKAN FATWA
(Sumber
:
http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&view=article&id=97:dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-sedang-melanda-bag1&catid=31:nasehat-a-bantahan&Itemid=46)